Cinta si Dungu
Bab kedua dari cerita ini: http://forbiddenblackrose.wordpress.com/2011/09/23/pedang-yang-tumpul-cawan-yang-tumpah/
Ditulis oleh Michael Vincent October 2011
Tepat saat itu juga, mata Loif yang sedang kosong karena melamun mulai terisi oleh tekstur tengkorak dengan hiasan klasik dengan warna abu dingin menghiasi bola matanya yang berwarna cokelat tua berkilau.
“ Apa-apaan sih, Dininma?” gerutunya menyilangkan kedua tangannya ke meja dan menyembunyikan kepalanya serasa tidur di meja.
Lelaki ini tampaknya mulai geram dengan tingkah laku teman perempuannya yang sepertinya memiliki dunia sendiri.
“ Ini gua pinjemin Bohemian Gothic nya buat elu, tampaknya si Bohemian lagi pengen deket-deket sama elu” jawabnya sambil menarik kursi dan duduk bersebrangan dengan Loif. Kelas masih belum banyak manusia karena masih setengah jam lebih awal dari jadwal masuk. Kemeja kotak merah yang dikenakan Loif mulai menggesek meja yang diberi triplek tipis putih yang tergores-gores oleh cutter mahasiswa-mahasiswa desain.
“ dasar cewek freak, gua nggak percaya gitu-gituan, lagian ngapain sih elu kepo amat, ikut campur urusan orang, gua udah nggak ada apa-apa..” Loif menunjukkan posisi tidak nyaman karena kehadiran Dininma.
“ Fuh padahal kemaren si Bohemian udah kasih tau yang bener kan soal elu. Bukannya gua freak tapi beneran loh Bohemian lagi mau nempel sama elu, mungkin ada hal yang menarik nanti terjadi..” Loif mengangkat seluruh badannya dan badannya segera menuju ke pintu keluar kelas, tampaknya ia ingin mengacuhkan Dininma.
“ ish ini cowok auban banget, hei tunggu, dengerin dulu dong!” Dininma mengambil blazer marunnya dan ikut mengejar Loif. Suara dentuman kaki yang keras dan cepat terdengar di sepanjang koridor kelas.
“ Ya ampun jadi orang jangan jutek-jutek amat kali, Loif tunggu!!” Dininma berusaha mengejar-ngejar dengan pouch pink berisi kartu tarotnya. Tak sempat Loif berbalik ke depan untuk melihat, ia bertubrukan dengan seseorang sampai jatuh ke bawah dan saling menindih. Sepertinya ia menindih dengan seorang pria. Dininma menghentikan langkahnya, pouch pinknya terbuka dan keluarlah tiga kartu menyelami keramik koridor kelas. Pria itu mulai membuka matanya, ia melihat sosok Loif, Loif pula terkejut dengan pria ini.
“ Elu.. elu kan..,” pinta Loif segera bangkit dan menarik tangan pria itu.
“Ko Loif. Wah udah lama banget gak ketemu, masih inget aku kan?” pinta dirinya, ya tak salah lagi, mukanya mirip dengan Pien. Ia mengenakan kaos hitam polos dengan jeans, berbeda dengan kakaknya yang rambutnya pendek tak berponi, ia justru jabrik dengan gelnya.
“ Thon!” tersentak Loif bertambah-tambah,
“ Hei-hei kok kaget amat, tahun ini saya baru mau mulai kuliah lho. Nih bareng si engko sedeng.”
Pien mengenakan jaket hitamnya berjalan dengan cepat dan mengacuhkan Loif, begitu pula sebaliknya Loif berbuat demikian. Thon sepertinya menyadari adanya keanehan antara mereka berdua.
“ Lagi berantem sama koko aku ya, ko?” tanya Thon dengan mudahnya menyelutuskan pertanyaan itu.
Dininma meneliti tiga kartu yang jatuh di hadapan mereka bertiga. Si Dungu, Dua Cawan, Sang Kekasih. Dininma terkejut dengan hasil kartu yang keluar. Ini bukanlah kebetulan, pikirnya. Thon, pria misterius adik Pien Nard ini mungkin…
“ Hahaha, bukan berantem, lebih tepatnya gak tau apa yang mau diomongin, gak ada topik aja.” Loif menyampingkan masalah dan perasaannya.
“ Koko saya emang agak gak beres otaknya, tapi jangan berantem sama dia ya, gitu-gitu dia baek kok,”
“ hahahhaa, udahlah sana masuk kelas elu yang baru, semangat ya pertama kuliah.”
“ okeee makasihhh ko Loif!” Benar, benak Loif berbicara dengan diri sendirinya, lebih baik tidak perlu berbicara apa-apa, bersikap sewajarnya, berbicara dengan Pien seperluadanya.
“ Ehem.” Loif mulai kesal ketika mendengar suara dehaman dari Dininma.
“ Ada apa lagi, Din? Mau ngomong apa lagi?”
“ Itu tadi adeknya Pien ya?”
“ Iya, kenapa, naksir ya? Sana ambil, masih brondong, segar, udah ya jangan gangguin gua!” pinta Loif ingin balik ke kelasnya, Dininma menyeletus
“ Dia mungkin jodoh elu loh..”
“ Hah? Apa lagi coba?”
“ Beneran, ini ada kartu Si Dungu, ceritanya elu tuh dungu.”
“ Jadi elu mau ngatain gua goblok?” Loif kembali bertanya, kali ini badannya secara frontal menghadapi gadis ini.
“ Makanya dengerin gua dulu, ini kartu namanya Si Dungu, dan gua gak ngomong elu tolol, dan ini ada dua cawan kalo mungkin cinta baru akan lahir dalam hati elu, dan elu nantinya harus memilih antara si engko dan adek.” Dininma tampaknya serius sekali menjelaskan isi kartu tarot yang keluar dari pouchnya tadi, dengan sepenuh hati ia menunjukkan gambar kartu itu ditebar dengan beludru merah tuanya.
Loif tampaknya tak tertarik dan segera melangkah kakinya ke lantai keramik kelasnya.
Tampak dengan jelas pemandangan yang tidak mengenakkan hati Loif. Pien sibuk menarik rambut Teby, gadis yang cukup dekat dengan pria itu sekarang. Tapi apalah mau dikatakan oleh Loif yang tak punya hak apa-apa, hanya bisa menyimpan api dalam sekam.
“ Ya udah deh, elu gak mau dengerin gua gak apa-apa, biar elu sakit hati sendiri, gua harus kuliah dulu ya, nanti gua gangguin elu lagi.” Dininma sepertinya melihat jam di tangan kirinya dan segera menuju kelasnya.
Loif menuju bangkunya, dan merasa kesal kenapa harus menderita sendirian seperti ini setiap hari. Kenapa dirinya harus dengan sempatnya melihat kemesraan mereka berdua,
dan bagaimana caranya bisa melupakan kalau tiap hari dijejali dengan pemandangan busuk ini? Ia kembali merenung sembali mengorek isi tasnya dengan iseng.
Ada barang aneh yang memasuki tasnya. Ternyata pouch pink berisi Bohemian Gothic Tarot yang kepunyaan Dininma, sial, pikir Loif, beraninya dia masukin barang ke tas orang.
Tetapi Bohemian Gothic begitu indah, klasik, cantik membuat Loif menelusuri wajah kartu si Dungu, Dua Cawan, dan Sang Kekasih secara terus-terusan.
“ Dia itu nanti jodoh elu, Loif.”
Ah tololnya aku, bisa kemakan omongan cewek freak itu. Ia menutup kartu itu kembali ke pouchnya sembari menunggu kelas selesai.
-…-
Loif berdiri di depan teras universitas. Hujan mulai turun, gemercak gemercak air mulai bercinta dengan tanah. Hawa sejuk mulai memeluk tubuh manusia dengan kasar, aroma cinta air dan tanah mulai tercium dengan tajam. Momen yang menyenangkan untuk Loif.
“ Ko Loif belom pulang?” seseorang menyapa Loif dari belakang pundaknya, Loif mengenal suara itu, Thon Nard datang sembari mengeluarkan payung.
“ Hari ini saya gak bawa motor, si engko kampret itu juga gak mau pulang dulu, mau ikut ekskul. Ko Loif gak ada payung buat hujan ya?”
“ Gua nggak tau hari ini bakal hujan.” Thon tertawa karena mendengar alasan Loif yang polos,
“ ya siapa yang tau kalo hari ini hujan?”
“ ramalan cuaca di berita. Lupa liat tadi pagi, tapi gua suka banget sama hujannya, seperti mengasihani gua karena keadaan gua sekarang ini.”
“ Waduh, lagi stres ya? Jangan stres dong, udah lah pulang bareng sama saya aja?”
“ hah?”
“ Iya daripada bengong, kebetulan rumah kita kan gak jauh, nanti dari rumah saya, saya bisa pinjemin payung biar ko Loif bisa pulang, gimana?”
“ Aduh ngerepotin nih..”
“ zaman gini masih basa-basi gitu? Hahahaa, ayo lah jalan.” Loif sepayung bersama dengan Thon.
Tidak ada curiga yang berlebihan, dan tidak merasa ada keanehan terjadi.
“ Eh Thon, sekarang gimana udah naksir sama orang?”
“ Ada sih, cinta lama, cuman kayaknya dia gak naksir sama saya.”
“ Oh ya, masa? Cakep gini gak mau?”
“ Hahahaha, masalahnya yang dia naksir lebih cakep dari saya, ya walaupun udah sering stres dan sedih, ya semoga aja bisa nemu yang baru.”
“ Bener ya, semoga aja bisa nemu yang baru…” pinta Loif menyetujui perkataan Thon dan menyentuh besi payung bergantian dengan Thon. Thon tampaknya tak sengaja melihat mimik lesu Loif.
“ Waduh, hahaha, ko Loif lagi patah hati ya? Sama siapa?”
“ Hah kacau elu, gak lah, biasa aja, emang muka gua gini..” Loif terpinta kaget karena Thon memerhatikannya. Mereka berdua tertawa sepanjang perjalanan menuju halte transjakarta. Beberapa mobil sepertinya melaju kencang, Loif yang berjalan di pinggir-pinggir Teras sepertinya was-was takut tersiram air becek aspal.
Tak disangka sebuah mobil melaju kencang dan cipratan air nya sebentar lagi mengenai Loif
“ Awas ko Loif!”
Thon menarik tubuh Loif ke tubuhnya, serasa seperti menempelkan tubuh Loif secara mendadak ke tubuh Thon, cipratan itu tidak berhasil menodai tubuh Loif. Di tengah hujan seperti ini, Loif cukup terkejut atas tindakan Thon, sepertinya Thon pula refleks atas gerakannya, ia segera melepas rangkulannya.
“ Aduh Sorry, refleks.” Katanya salah tingkah.
“ Wah gak apa-apa lah, gua justru mau bilang makasih karena berhasil menyelamatkan gua dari cipratan.”
“ Hahaha, sama-sama, yuk kita jalan, busnya udah dateng.” Loif tak menyangka meskipun Thon satu saudara dengan Pien, namun kepribadian mereka berbeda satu sama lain.
Apa yang seharusnya Loif pikirkan? Ia harus berusaha melupakan Pien. Tak ada lagi yang bisa diharapkan dari cinta si Dungu. Tak ada yang bisa. Loif membiarkan setetes hujan meresap dalam pori-pori kulitnya, berharap menerima anugerah Tuhan yang untuk membantunya melupakan Pien.
Namun kehadirannya dan kedekatannya dengan Thon membuatnya tak terduga. Biarkan hal ini melanjut, biarkan hujan terus merindukan sosok tanah, biarkan waktu terus berlarut, sampai pada akhirnya selesai dan tidak akan pernah bertemu lagi dengan Pien. Ya, tinggal beberapa saat lagi kelulusan akan ada di depan mata.