Gemerlap Birahi
Diinspirasikan dari lagu Kumi Koda-Physical Thing-2009
Ditulis fiksi dari lagu tersebut oleh Michael Vincent BLACK-2009-September.
Aku jenuh, berada di sebuah tempat gelap, penuh dengan gemerlapan ini, lampu-lampu bulat hitam besar itu memiliki lubang-lubang bulat cahaya kelap-kelip berwarna pelangi dan menerangi ruang yang dingin hitam gelap, dengan tergenggam sebuah gelas kaca kubus berisikan Jack Daniels yang sedikit. Banyak orang gemerlapan menikmati dentuman sensual, banyak iblis berkeliaran.
Di sela kejenuhan yang menyesakkan, kulihat dengan samar-samar seorang yang berbeda, dengan buah dada besar permukaan mengkilap seperti dilapisi minyak yang terbungkus dengan gaun bermotif abu-abu metalik polos. Berkulit coklat latin, wanita yang memukau ini berjalan dengan dentuman hak tingginya yang bisa kubayangkan betapa indah lekuk kakinya dibalut dengan hak tingginya berwarna hitam. Wanita itu berjalan semakin mendekat, menatapku selama dua detik dengan tatapan yang penuh dengan labirin dan keangkuhan yang memikat. Bibirnya yang mengkilap, tanpa lipstick. Matanya yang diberi dengan eye shadow hitam, dengan bulu mata yang cukup lebat, berparas angkuh elegan, cantik yang unik dan klasik.
Ia mengibas rambutnya dengan tidak sengaja ketika ia duduk tepat disebelahku, dan memesan margarita dengan cherry diatas menjepit mulut gelas seperti mangkuk itu. Kemudian menatapku dan tersenyum menantang. Aku memberanikan diriku mendekat dirinya yang diselimuti ego yang tinggi.
“ Tak kusangka ada yang membuat jenuhku hilang disini.” sapaku.
Ia hanya memandangku dengan senyumnya yang penuh makna, mengambil cherry itu dari mulut gelasnya, menyeruput margarita dengan perlahan-lahan, menyentuh tali cherry itu sambil memutar-mutarnya.
“ fuh. Aku juga jenuh. Makanya aku datang ke sini.” Sapanya dengan nada yang seksi dan menggetarkan seisi kepalaku.
“ aku tertarik padamu.”
“ kumohon. Jangan lebai. Aku pula tertarik padamu. Tapi..”
“ tapi…?”
“ aku tak ingin cinta.”
Aku semakin memerhatikannya dengan cermat, aku menggulung lengan kemeja hitamku, dan semakin mendekatkan tubuhku pada dirinya.
“ sungguh aneh aku mendengar dari mulut seorang wanita yang bilang ia tak ingin cinta.”
“ itu karena aku tau ini bukan cinta.”
“ pernyataan yang bagus, lady.”
Ia memandangku, kembali tersenyum memiliki makna yang aneh, menggoda dan menggetarkan logika. Tak menjauh dari tubuhku. Cherry yang ia mainkan berhenti dari putaran jarinya yang diberi kutek merah pekat. Kemudian dengan jarinya itu ia membelai bibirku dengan cherry yang dimainkannya.
“ kau tau sesuatu yang berhubungan dengan badan. Seperti menagih. Seperti ekstasi?”
Aku berusaha mencari kata yang tepat untuk mengisi pertanyaannya.
“ tapi aku tak tertarik bila kau sudah dimiliki. Apa kau sudah dimiliki? Jujur. Kalau kau belum termiliki, habiskan buah terlarang ini, manusia berjenis Adam.” Jawabnya dengan mendekatkan wajahnya yang begitu memukau memandang mataku dengan kristal yang indah dimatanya, dibiaskan oleh cahaya warna-warni.
“ birahi?” kubuka mulutku dan menelan dengan pelan cherry yang asam itu ke dalam mulutku. Ia tertawa kecil dan kembali menyeruput margarita.
“ tak usah berlaga polos seperti itu. Aku tau kau juga mau. Tak usah kau menggigit cherry itu seperti menggigit kukumu.”
Aku menelan cherry itu dengan gugup. Tak kusangka egonya begitu puncak, dan penuh dengan tantangan yang menjebak. Tetapi aku tak menyerah begitu saja, aku membelai wajahnya.
“ ya. Aku juga mau. Kau lihat aku menarik, aku melihatmu menarik. Begitu simpel. Begitu praktis.”
“ kau tau aku mau lebih dari sebuah gombalan sampah. Jadilah lelaki dan puaskan aku.”
Aku menyentuh tangannya dan membawanya ke dalam ruang yang sepi dan terpencil dan didalam ruang yang terkunci itu, aku menghempaskan dirinya ke dinding yang bercorak kotak kotak hitam putih seperti papan catur.
“ aku peringatkan kau. Berani kau dustakan aku bila kau sudah dimiliki. Aku bersumpah akan membunuhmu setelah ini.”
Aku tersenyum dengan jahat. Aku tak bisa berpikir. Dan kukatakan padanya dengan jujur kalau aku lagi kosong. Kumulai menyentuh bibirnya yang basah dan kurasakan selaput bibirnya yang menempel dengan selaput bibirku perlahan-lahan, mendalami bibirnya dan seisi mulutnya dengan mulutku. Kemudian aku membelai lehernya dengan bibirku.
Desahannya begitu mempesona, begitu seksi, begitu indah. Ia meremas otot punggungku.
“ namamu siapa, manusia ber-ras Eve?” jawabku membelai lehernya dengan mulutku dari atas letak kerongkongan sampai ke tengah belah dadanya dengan kering.
“ tak wajar seorang lelaki yang akan mendalamiku tanpa cinta menanyakan nama.”
“ aku tentu berbeda dengan bajingan-bajingan yang membuatmu jijik.” Godaku membelai kewanitaannya yang melumas dengan belaian jariku.
“ semua lelaki itu bajingan. Kau beruntung hari ini aku sedang sial.”
Aku tertawa. “ bajingan beruntung ini diberi nama Krein.”
“ Sicaya.” Ia melepaskan kemejaku dengan matanya yang penuh dengan hipnotis, dan membelai rambutku yang hitam berponi ke samping, pendek. Ia tampaknya takjub melihat tubuhku yang cukup bisa kubayangkan untuk memeluknya dengan keras dan berisi.
“ nama yang indah.” Pujiku mencium pipinya.
“ teruslah menyampahkan gombal dari bibirmu yang membius itu, Krein.”
“ aku akan terus menyampahkan sampai bisa merebut dirimu sepenuhnya.”
“ fuh. Itu tergantung seberapa jantan dirimu sebagai seorang pria.”
Aku semakin tertantang dan dengan lugasnya aku membuka pahanya dan menjepitkan sebelah pahanya mendekap kejantananku. Dan kudalami lidahku ke dalam mulutnya yang mulai mendesahkan nafas yang menggoda dan menggelora. Kubuka resleting gaunnya dari untaian yang berada dipundaknya, dan sebelah tangan kiriku melepas celana dalamnya. Ia pun tak membuatku sadar kalau kejantananku sudah bebas dari celana jeansku.
Aku mengalaskan lantai marmer itu dengan bajuku, dan menggendongnya sampai ke bawah dan menindihnya. Dan kulumeri bibirnya dengan bibirku dan kami mulai menyatu.
“ Puasi aku.. Krein.. ah.. ah..”
Gerakan yang simpel dan mudah. Goyang maju dan mundur, dan mengepit. Keringat bercucuran membasahi kedua badan, pelan pelan tetapi pasti. Seperti sebuah irama yang menakjubkan ditaburi dengan gemerlap birahi.
Aku memeluknya dan terus melanjutkan birahi tanpa henti ini. Bibirnya terus mendesah dua huruf alami penuh dengan godaan dan tantangan yang nikmat. Desahannya yang menggemakan namaku membuatku terus terjerumus dalam kenikmatan penuh kontroversi. Sesuatu yang tabu.
“Sicaya..”
Aku mendengar desahan sayu membisikkan telingaku dengan seksi..
“ Krein.. aku.. aku.. sudah mau..”
aku tersenyum memandang wajahnya, memelankan lajuanku, dan menciumnya dengan pelan.
“ Jangan egois dong, aku juga ikut.”
Aku terus menggelorakan badannya dan semakin lama akhirnya, kedua bibir secara refleks mendesah dan mengerang panjang bersamaan dalam satu ritme.
.:—:.
“ Sial. Kau begitu nikmat.” Jawabnya memalingkan wajahnya dari tatapanku yang terus tersenyum memeluknya yang begitu elok dan indah, dan lucu.
“ kamu juga. Begitu memukau di hati.”
“ teruslah menyampah gombalmu. Semakin lama semakin seperti perhiasan asli.” Senyumnya sambil pura-pura tidak tertarik. Wanita dengan ego yang tinggi.
“ Kau juga belum termiliki kan, Sicaya?” tanyaku sambil mengembalikan logikaku.
“ aku bukan murahan. Aku tak akan melakukan dengan pria lain kalau aku sudah termiliki. Yah. Walaupun sekarang ini aku seperti pelacur.” Jawabnya dengan polos dan aku tertawa kencang.
Kemudian aku menciumnya dengan lembut, membelai kembali lehernya yang manis dan menyebar sampai terhenti di telinga kanannya dan membisikkan sesuatu,
“ sekali lagi yuk?”
Tamat.
.:—:.
slapstick
“ sekali lagi yuk?”
“ aku udah bosen dengan kontrasepsi. Kalo mau lagi sana vasektomi dulu.”
.:—:.