Nostalgica: 1st September 2007 ~ I Believe vers.~
Fictionshortstory Created by Michael Vincent-November 2008
Aku percaya…
Apakah kamu masih mengingat janji kita?
Aku percaya…
Janji ketika kita sedang menjalani sebuah cerita cinta
Aku percaya..
Kamu masih mengingatnya…
31 Agustus 2007, Nokia N91, 21.45 WIB, Messaging Folder.
Hari ini kita ketemuan, kan? Besok kamu pake apa say, supaya kita kesannya kembaran gitu lho >.<
Aku mungkin pakai hitam dengan daleman abu, pula rok bergelombang dengan warna yang sama, abu, kalau kamu?
Kalo begitu besok aku pakai baju putih ya, kayak polo gitu, tapi dalemannya hitam ya.. biar kita kembaran, ups, tapi aku nggak kembaran ama kamu ya kalo bawahannya, besok aku pake celana pendek sampai paha berwarna merah ya XD aku gak sabar pengen ketemu ama kamu, Tisha.
Kalo aku jelek, mang kamu masih mau ama aku? Di Friendster sih aku fotogenik banget lho..
Gak. Aku gak percaya kalo kamu jelek. Kalo kamu udah disuka ama aku, Iam , gak mungkin jelek.
Iam.. makasih ya.. aku tidur dulu ya..
Good nite.. aishiteru..
Aku Tisha. Seorang gadis yang baru saja kencan di dunia maya. Kami berkenalan. Kulihat fotonya memang sepertinya ia benar-benar memiliki wajah seperti itu. Polos, matanya bersinar menyiratkan sesuatu yang misterius. Berambut pendek. Wajahnya biasa saja. Tapi aku pula begitu. Menurutku aku biasa-biasa saja. Tapi.. tidak apa-apa. Entah mengapa.. aku percaya bahwa semuanya akan berjalan dengan baik.
Aku percaya.
1 September 2007, Mall Kelapa Gading, 17.00
Dua menit serasa seperti satu hari. Aku penasaran. Aku ingin bertemu dengan Iam. Karena aku baru pertama kali pacaran. Apakah aku begitu menggelikan? Ya. Aku menggelikan. Tapi tak apa. Karena ini baru pertama kalinya aku berpacaran. Semoga dia menyukaiku, Tuhan. Semoga Iam menyukai Tisha Valentine.
Aku percaya.
Ti..sha..?
Aku mengadah ke depan memandangi seorang sosok pria. Muda. Dengan tinggi kira-kira seratus delapan puluh-an. Berpakaian polo shirt putih dengan kaos polos hitam didalam polonya. Dan celana pendek berwarna merah, sandal santai tapi bagus. Kacamatanya. Ekspresi itu. Ia begitu berbeda dari fotonya. Iam yang asli begitu tampan. Dan aku, begitu biasa.
Kamu lebih cantik ya dari foto..
Ah.. boong banget kamu..
Ia terdiam. Sangat berbeda sekali dengan ketika dia sedang bersms. Begitu talkative, dan sekarang ini begitu misterius. Oh.. apakah aku jelek? Ya.. aku mungkin tak pantas bersamanya.
Um.. kita mau kemana?
Aku.. juga tak tahu..
Kulihat kearah lain. Menghilangkan ketegangan. Kulihat sebuah restoran di sana. Pizza.
Kita makan aja yuk. Kataku.
Kami kemudian makan. Ia sama sekali tak berbicara. Oh Tuhan, pasti aku ini jelek banget ampe dia gak mau ngomong ama aku. Oh Tuhan.
Kamu.. ke sini naik apa?
Taksi.. jawabku.
Maaf ya.. aku masih belum cukup umur buat nganter kamu..
Gak apa-apa kok.. umurku ama umurmu kan sama.. makasih ya udah mau ketemuan ama aku.
Aku dong yang mestinya ngomong begitu..
Kami berdua tertawa dan berfoto bareng. Beneran deh. Kalo difoto dia jelek banget. Tapi aslinya ganteng banget. Entah kenapa semua orang cakep kalo difoto, aslinya lebih cakep. Hix hix..
Eh.. kita ke timezone yuk. Ajakku.
Ada sebuah mesin, seperti mesin simulasi. Aku penasaran seperti apa itu. Aku ingin menaikinya dan ia pun setuju untuk mendampingiku. Wah. Ternyata hanya mainan 3d gitu. Agak bosen sih. Tapi gelap-gelap gini..
Sesuatu menyentuh bibirku.. dengan berbeda dari sebuah pori jari. Ini pori yang lain. Sedikit basah. Meraup bibirku begitu dalam. Begitu memikat.
Iam.. menciumku..
Kapan kita begini lagi, janjian lagi buat ketemuan yuk.. katanya.
Ya.. aku pula senang.
2008 June 8th, Timezone . 20.00 WIB
Iam. Apakah kau masih mengenaliku? Aku pula sudah berubah. Ketika aku meninggalkanku, aku masih menyimpan gambar tulisan cinta dalam bahasa Jepang yang kau ciptakan untukku ketika aku berulang tahun, dan sekarang janji yang seharusnya ditepati, sudah tak mungkin lagi untuk terjadi.
Sekarang aku tinggal di dunia tanpamu.
Berharap kalau ini hanyalah ilusi. Aku percaya.
Dan sekarang aku berdiri dihadapan mesin simulasi itu. Tempat kita bertemu. Dan kau tidak mungkin lagi datang. Selesai sudah.
Apakah ini jawabanmu padaku Iam.
Tidak.
Aku percaya.
Suatu saat, kau akan datang ke tempat ini
Aku percaya,
Suatu saat, kau akan kembali menggandeng tanganku
Dan, aku percaya,
Cerita cinta kita bisa dimulai sekali lagi
Aku percaya.